 | Category: | Movies | | Genre: | Education |
“Nonton 5-10 menit pertama, sudah meneteskan air mata” Kutipan itu saya baca di Harian Surya sehari sebelum nonton film ini. Masa’ sih awal-awal film udah bisa bikin nangis. Andrea Hirata juga bilang klo filmnya lebih bagus daripada novelnya. Wow pasti film ini keren banget. Kemarin saya udah nonton dan Subhanallah keren bikin merinding bagussss banget dan siap-siap aja bawa tissue yang banyak, satu tissue ga cukup hehehe. Berkisah tentang Lintang, Ikal dkk yang tergabung dalam Laskar Pelangi, sebelas anak Melayu Belitong yang sangat luar biasa, tak pernah menyerah mengenyam pendidikan. Walau gedung SD nya hampir roboh, tapi mereka selalu semangat belajar. Tentu saja ini berkat peran dari Bu Muslimah dan Pak Harfan yang dengan sabar mendampingi mereka. Banyak juga adegan lucu yang ada di film ini, salah satunya kisah cinta pertama Ikal. Ketika dia bertemu dengan Aling selalu akan muncul efek bunga-bunga ato sinar-sinar seperti film kartun hahaha lucu banget. Ada juga adengan nyanyi Bunga Seroja, jadi kayak pilm India hehehe. Fiuhhh…rasanya lega banget bisa nonton film ini apalagi saya nonton pas premiere, terbayar sudah deh semua kekesalan saya, soalnya sehari sebelumnya saya sempat berdebat sama salah satu teman saya gara-gara mau nonton pilm ini hehehe. Oh iya bagi yang belum baca novelnya, sebaiknya baca novelnya dulu deh biar bisa lebih kenal ama tokoh-tokohnya dan ngrasain “feel”nya. Pokoknya film ini wajib tonton!!!
“Hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya”

 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Andrea Hirata |
Satu kata yang bisa kuungkapkan untuk novel ini : Fantastis. Memang agak telat aku membaca novel sekeren ini, bayangkan aku membaca cetakan kelimabelasnya, kemana saja aku selama ini baru tau ada novel sekeren ini. Novel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi ini memang sungguh menyentuh hati. Bercerita tentang Arai dan Ikal dua remaja Belitong yang berjuang keras demi meraih cita-citanya sekolah di Sorbonne Paris. “Tanpa mimpi dan semangat orang seperti kita akan mati,” salah satu kutipan favoritku di novel itu, hiks benar-benar tak bisa kubayangkan bocah-bocah seperti mereka membanting tulang terpisah dari sanak saudara demi melanjutkan pendidikan. Mimpi untuk meraih masa depan adalah semangat hidup mereka. Di novel ini kita juga disuguhi humor-humor khas remaja, huehehe masih ingat rasanya waktu Arai,Ikal dan Jimbron sahabat mereka, dipajang di lapangan sekolah untuk memeragakan film biru yang baru mereka tonton, kocaknya Jimbron yang super duper maniak kuda, lucunya Arai waktu nyanyi When I fall in love untuk pujaan hatinya, lucu banget dah pokoknya. Tapi kadang tawaku lenyap saat membaca mozaik-mozaik perjuangan mereka, derai air mata ini tak sanggup kutahan, saat Ikal mengejar ayahnya huhuhuhu baca sendiri dah, apa lagi ntuh waktu mereka berdua dinyatakan lulus tes beasiswa dan dierima di universitas impian mereka di Sorbonne, sungguh kerja kers mereka selama ini terbayar sudah. Wah jadi gak sabar baca Edensor, novel lanjutannya sabtu depan baru beli hueeee bentar lagi ^,^

 | Category: | Books | | Genre: | Teens | | Author: | Ken Terate |
Setelah novel terkahirnya Join The Gang, Ken Terate salah satu penulis favoritku mengeluarkan karya terbarunya, Marshmallow Cokelat. Tak berbeda dari karya-karya sebelumnya, kisahnya tentang kehidupan remaja. Tapi jika kalian sebelumnya pernah membaca novel perdana Ken Terate yang berjudul My Friends My Dreams pasti kalian taka sing membaca novel terbarunya ini. Marshmallow Cokelat adalah kelanjutan dari My Friends My Dreams. Berkisah tentang 3 sahabat, Marcella, Joy dan Wening menghadapi semester barunya di sekolah. Marcella yang menginginkan band sekolahnya menang Festival Band SMA, Joy yang terus berusaha mendapatkan perhatian dari gebetannya, Wening yang bimbang tentang jurusan yang akan dipilihnya. Yach pokonya masalah-masalah seputar remaja yang khas banget, terkadang seru, tapi terkadang juga haru biru, hiks aku sempat meneteskan air mata membaca kisah ini hiks hiks hiks, jadi teringat masa-masa SMA dulu, rasanya pingin balik ke masa itu bersama sobat-sobatku. Menghadapi susahnya fisika, kima, matematika bareng-bareng, ngobrolin gebetan masing-masing, jajan di kantin, pergi les bareng. Sayang, hidup tidak punya tombol “pause” (salah satu quotation di novel itu, pinjem istilahnya ya Kak Ken), jadinya ya kita tak bisa kembali ke masa SMA dan menekan tombol “pause” walau untuk sehari, sejam, semenit pun hiks kenapa jadi melankolis begini? Yach walau sekarang saya berpisah dengan sobat-sobat saya waktu SMA, tapi persahabatan itu akan tetap anda. Entah dimana pun mereka berada, di Jember, di Bandung, di Bekasi, di Malaysia atau bahkan di Surabaya sekali pun ( hueee deket tapi jarang ketemu). Selama kamu punya sahabat yang hebat, semua akan baik-baik saja…
PS: Vina, Devy, Dirga, Hana, Adek, Ririn, Boy, Elis, Leti dan Kodokku tercinta…aku kangen kalian

| |